November 2020

Kisah Ayah Maafkan Kesalahan Pembunuh Anaknya  Kisah Ayah Maafkan Kesalahan Pembunuh Anaknya 

Kisah Ayah Maafkan Kesalahan Pembunuh Anaknya – Setelah melewati beberapa tahap proses dalam penyaringan,akhirnya kami dapat menyempurnakan artikel yang sudah kami kumpulkan dengan data-data dari sumber yang terpercaya mengenai kisah ayah yang maafkan kesalahan pembunuh anaknya.

Tak semua orang bisa ikhlas memaafkan kesalahan orang lain, terlebih bila orang itu sudah mengambil nyawa orang yang kita sayangi.

Namun kisah seorang ayah bernama Abdul Munim Sombat Jitmoud ini berhasil menggugah banyak orang lantaran ikhlas memaafkan pria yang sudah membunuh anaknya.

Saat persidangan, Abdul Munim Sombat Jitmoud justru memeluk pembunuh anaknya hingga video momen mengharukan itu menjadi viral di media sosial.

Kisah seorang pria muslim yang tinggal di Amerika Serikat ini akan membuat kamu menangis haru.

Saat tinggal di Amerika, Abdul Munim mendapat cobaan yang sangat berat.

Istrinya meninggal dunia.

Dua tahun setelahnya, ia kembali menghadapi ujian.

Anaknya meninggal setelah ditusuk perampok.

Tapi, alih-alih marah, Munim malah memaafkan, bahkan memeluk pria yang telah membunuh anaknya.

Pemandangan itu pun membuat hampir semua orang di Pengadilan Kentucky, Amerika Serikat, menangis, pada 9 November 2017 lalu.

Momen yang sungguh mengharukan ini berawal dari peristiwa dibunuhnya anak Munim, pada 19 April 2015.

Anak Munim yang bernama Salahuddin Jitmoud, saat itu melakukan pekerjaan sambilan sebagai pengantar pizza.

Ia mengantar pizza ke sebuah daerah di Lexington, Kentucky, AS.

Itu adalah pizza terakhir yang harus ia antar pada malam itu.

Di tengah jalan, Salahuddin dirampok oleh tiga pria.

Baca Juga:Kisah Cinta Paling Tragis dalam Sejarah

Salah satunya adalah Trey Relford (24), yang kemudian menusuk Salahuddin sampai tewas.

Pada 9 November 2017, Relford akhirnya divonis bersalah oleh hakim.

Dalam persidangan, Relford pada akhirnya diganjar hukuman 31 tahun penjara.

Nah, hakim kemudian memberi kesempatan pada Munim untuk mengutarakan pendapatnya.

Kalimat yang dilontarkan Abdul Munim, di luar dugaan dan membuat syok seisi ruang pengadilan.

Dengan intonasi pelan, kalimat yang keluar dari mulut Munim sungguh mengharukan.

“Anakku, keponakanku, Aku memaafkanmu,”

“Mewakili Salahuddin dan ibunya, Aku tidak menyalahkanmu atas kejahatan yang telah kau lakukan,”

“Aku tidak marah padamu, karena kamu terlibat menyakiti anakku,”

“Aku marah pada iblis,”

“Aku menyalahkan iblis,”

“Yang telah membimbing dan menuntunmu ke jalan yang salah,”.

“Untuk melakukan sebuah kejahatan yang mengerikan,”

“Memaafkan…. menjadi berkah atau amalan terbesar, dalam Islam,”

Setelah mengatakan hal tersebut, ruang sidang diselimuti rasa haru luar biasa.

Pengacara Relford, seorang wanita kulit putih, terlihat menangis.