Cerita Cinta Nusantara

Cerita Cinta Nusantara

cintasehati.com Romeo and Juliet, sebuah karya susastra Inggris bergenre tragedi. Diadaptasi dari cerita roman tragis kuno yang berasal dari Itali. Pengarangnya ialah William Shakespeare. Tentu bukan karena bertepuk sebelah tangan. Kisah roman cinta Romeo-Juliet ialah kisah tak sampai karena membentur dinding tebal permusuhan dua keluarga besar mereka. Sama-sama berlatar belakang keluarga bangsawan. Keluarga Montague ialah silsilah Romeo dan keluarga Capulet silsilah Juliet. Dianggap roman tragis karena cerita ini bertutur kisah cinta yang tak sampai. Ujung cerita tiba pada momen kematian para tokoh utama. Karena satu atau lain hal, Romeo bunuh diri minum racun dan kemudian disusul Juliet. Sudah tentu momen kematian sepasang kekasih ini berbuah hikmah bagi kedua keluarga. Perseteruan antarkeluarga yang telah berlangsung lama, selesai. Namun demikian, tetap saja struktur kisah cinta Romeo-Juliet sebenarnya antiklimaks. Berselang 3–5 tahun sebelum pementasan perdana karya ini di Inggris, nun jauh di belahan bumi selatan di Tanah Jawa lahirlah bayi laki-laki. Namanya Raden Mas Jetmiko, yang saat memasuki usia remaja berganti nama menjadi Raden Mas Rangsang.

Dia ialah putra mahkota dari raja kedua wangsa Mataram. Bayi laki-laki ini nanti dicatat sejarah sebagai raja paling agung di sepanjang periode kekuasaan dinasti Mataram. Ditengarai lahir kisaran 1592-1594 saat berkuasa dikenal dengan nama ‘Sultan Agung Hanyakrakusuma’. Pada masa Sultan Agung berkuasa, yaitu kisaran 1613-1645, lahirlah kisah romantika Jawa dari rahim sejarah. Rara Mendut-Pranacitra, demikianlah sastra lisan atau folklore tentang cinta dan percintaan Jawa ini dikenal. Bukan saja tercatat sohor, kisah itu juga melegenda hingga kini. Sering disebut khalayak sebagai kisah “Romeo-Juliet ala Jawa”, meskipun sebenarnya struktur kisah kedua lakon ini berbeda tajam. Alkisah, cerita ini diawali oleh sejarah penyerbuan Mataram ke Pati. Kekalahan Adipati Pragola, selaku penguasa Pati ini, lantas menempatkan Rara Mendut laiknya benda, karena menjadi bagian dari harta pampasan perang. Rara Mendut menjadi putri boyongan. Oleh Sultan Agung, Mendut yang bak benda dianugerahkan kepada panglima perang Mataram karena dianggap berjasa atas sejarah penundukan Pati. Tumenggung Wiraguna, nama panglima tertinggi itu.

Posisinya tak tanggung-tanggung, orang kedua setelah raja di hirarki kuasa kerajaan di zaman keemasan Mataram. Simaklah struktur kisah Mendut-Pranacitra. Sekalipun juga berujung maut pada kedua tokoh utama–seperti struktur kisah Romeo and Juliet—jalan cerita Rara Mendut-Pranacitra berbeda signifikan. Pada sepasang pecinta dari Tanah Jawa ini tidak bisa ditafsirkan sebagai berakhir antiklimaks. Pasalnya, selain jalan kematian bukanlah bunuh diri, kisah ini bukanlah tipe melodrama melainkan juga mengandung muatan epos yang kuat. Bagimana tidak. Ada potret heroisme yang gagah berani. Ada idealisme “super woman” terpatri kuat. Langsung atau tidak-langsung, kisah ini bertutur perlawanan sosial, antara kelas wong cilik-kawula (Rara Mendut) dan wong dagang (Pranacitra) yang dipersatukan oleh tali cinta melawan kesewenang-wenangan the rulling class yang direpresentasikan Tumenggung Wiraguna. Pati sebagai daerah taklukan Mataram, sedikit banyak tentu menyisakan bara ketidaksukaan atau bahkan spirit perlawanan pada dada si Mendut. Selain itu, kisah ini juga momot struktur narasi yang berisi perlawanan gender kaum perempuan, melawan dominasi budaya patriarkhi.

Sekalipun Mendut tentu tidak pernah mengenal gagasan emansipasi perempuan dan gerakan feminisme modern, kisah hidupnya merupakan biografi yang melukiskan spirit dan tuntutan akan kesetaraan gender. Sedangkan Tumenggung Wiraguna yang ingin Mendut jadi selirnya, entah selir ke berapa, jelas hasrat poligaminya itu mencerminkan kuatnya budaya patriarki. Diceritakan Tumenggung Wiraguna tergila-gila kepada gadis Mendut. Pria yang sangat berkuasa di Mataram ini, berkedudukan sebagai panglima tertinggi, terhormat, dan memiliki banyak harta, lazimnya kaum perempuan saat itu justru berharap menjadi selirnya karena dianggap bisa meningkatkan posisi status sosialnya. Namun tidak demikianlah sikap si Mendut. Mendut melihat posisi selir hanyalah lambang kekuasaan kaum laki-laki. Menurutnya, laki-laki itu sesungguhnya tidak pernah mencintai dengan segenap jiwa pada selir-selirnya. Laki-laki berkuasa memiliki banyak istri sebagai simbol kejantanan dan kekuasaan. Mendut tidak mau dijadikan objek dan simbol belaka. Tubuh dan jiwa baginya adalah miliknya sendiri yang merdeka dan tidak terbelenggu. Dengan alasan itulah Mendut, si gadis pantai dan dibesarkan dalam lingkungan budaya pesisiran itu, menolak mentah-mentah pinangan dan tawaran Tumenggung Wiraguna.

Baca Juga :KIsah Kehidupan Keluarga Yang Romantis

Sikap penolakan Mendut yang berani ini dianggap melecehkan kewibawaan seorang panglima perang kesayangan raja Mataram. Tumenggung Wiraguna menjatuhkan sanksi. Mendut sebagai papasan perang, yang berarti juga bukanlah warga merdeka, lantas dihadapkan pada dua pilihan: pilih membayar pajak atau menjadi selirnya. Mendut tak undur sejengkal pun. Dia memilih membayar pajak, yang ini berarti juga harus mampu mentransformasikan peran pribadinya. Dari wong cilik-kawula menjadi wong dagang. Setiap hari Mendut harus membayar pajak untuk tinggal di Mataram. Nilainya semakin lama semakin tinggi, sejalan dengan sukses yang dicapai Mendut sebagai wong dagang. Cerita Mendut tentu tak berakhir di situ. Menjalani aktivitasnya sehari-hari sebagai wong dagang di pasar, ternyata membawanya momen ‘pucuk dicinta ulam tiba’. Bertemulah dia dengan sosok cinta sejatinya. Pemuda tampan ini kemudian selalu hadir mengisi mimpi-mimpi malam Mendut dan sekaligus menjadi tambatan hatinya. Ya, dialah Pranacitra. Putra seorang saudagar perempuan yang kaya raya, Nyai Singabarong. Penuh totalitas dan dedikasi mencintai Mendut, pemuda Pranacitra mengajak Mendut melarikan diri keluar dari teritorial kekuasaan Mataram. Mengajak kembali ke Pati.