Cerita Cinta Yang Sedih

Cerita Cinta Yang Sedih

cintasehati.com Jatuh cinta adalah hal indah yang bisa terjadi pada setiap manusia di dunia. Sayangnya, tidak semua orang memiliki perjalanan cinta yang mudah. Kisah-kisah perjuangan tersebut amat seru untuk diceritakan. Simak cerita cinta sedih yang bisa bikin kamu nangis termehek-mehek di bawah! Kahlil Gibran pernah berkata bahwa hidup tanpa cinta sama halnya dengan pohon tanpa bunga dan buah. Sayangnya, tidak semua buah terasa manis, beberapa justru terasa asam dan pahit. Seperti cerita cinta, tidak hanya berakhir bahagia, tapi ada juga kisah sedih yang bisa bikin kamu nangis. Meski berakhir menyedihkan, bukan berarti cerita-cerita tersebut tidak layak disimak. Justru dalam sebuah cerita cinta sedih ada banyak pelajaran yang bisa kamu petik. Jadi setelah membacanya, kamu bisa menjadi orang yang lebih bijak saat jatuh cinta lagi. Jika kamu sedang sedih, membaca cerita cinta yang sedih dan bisa bikin nangis ini mungkin akan menghibur hatimu. Sebab setelah membacanya, kamu bisa sadar bahwa ada orang yang lebih malang dari kamu.

Jika kamu orang yang mudah menangis karena terharu atau sedih, sembunyilah dari teman-teman atau keluargamu sebelum membaca cerita-cerita ini. Dengan begitu, mungkin kamu bisa menghayati dan tidak malu ketahuan nangis saat membaca cerita cinta sedih ini. Simak sambil habis. ya! Cerita Cinta Sedih Mana yang Bisa Bikin Kamu Nangis? “Aku membenci suamiku,” kalimat itu hampir selalu terngiang di kepalaku selama kami bersama. Memang, pernikahan kami tidak didasari oleh cinta, kami menikah karena dorongan keluarga. Ayahku sendiri memaksaku menerimanya sebagai suami karena di matanya ia adalah sosok lelaki yang baik, dari segi agama, karir, dan kepribadian. Aku merasa saat itu kebebasanku terenggut, aku merasa takdir sangat tidak adil padaku. Karena itu aku menumpahkannya pada suamiku. “Ia telah mendapatkan hidupku, maka ia harus membuatku bahagia,” dengan keyakinan itu, tanpa rasa bersalah aku menyuruhnya membelikan berbagai hal. Dari tas, mobil, perhiasan, bahkan perawatan kecantikan di salon mahal. Aku juga menolak bekerja dan hanya menghabiskan waktu di salon atau jalan-jalan.

Suamiku tidak pernah mengeluh dengan itu semua dan tetap menuruti keinginan-keinginanku. Justru aku yang sering marah saat ia mendengkur, lupa membereskan gelasnya karena terburu-buru ke kantor, atau lama di kamar mandi. Tapi tetap, ia tidak pernah marah padaku meski aku kurang ajar padanya. Tanpa terasa sudah 10 tahun berlalu, kini kami sudah memiliki dua orang anak. Meski sudah cukup lama, tapi rasa benci pada suamiku belum juga hilang. Suatu siang saat hendak membayar ongkos perawatan di salon, uang di dompetku kosong. Aku menelpon suamiku, “Yah, uang di dompet mama kamu ambil ya? “Maaf Ma, tadi ayah mau kasih uang jajan anak-anak, tapi ternyata dompet ayah lagi kosong,” jawabnya. Aku murka padanya, lewat telepon aku membentak, mencaci, dan menyuruhnya datang. Pemilik salon pun menenangkan, ia bahkan berkata bahwa tidak apa-apa dibayar lain kali karena sudah kenal baik denganku. Tapi aku menolak, bukan karena malu tidak membayar, aku hanya ingin membuat suamiku kerepotan.

Baca Juga :Cerita Mencari Cinta

Beberapa jam berlalu, tiba-tiba datang sebuah telepon dari rumah sakit. Suamiku kecelakaan dan sedang dalam kondisi kritis. Bergegas aku menuju ke rumah sakit sambil menghubungi orang tua kami. Dokter lalu menjelaskan jika ternyata penyebab kritisnya suamiku bukan karena kecelakaan, tapi karena stroke. Hanya beberapa jam kemudian, suamiku meninggal dunia. Upacara pemakaman digelar, semua orang yang mengenal suamiku dengan baik menangis pada saat itu. Memang aku sedih, tapi air mataku tidak bisa tumpah, dadaku pun sesak, namun aku bisa tetap tenang. Seperti itulah kondisiku sampai suamiku selesai dikebumikan. Beberapa hari setelah pemakaman, datang seorang notaris yang mengurusi masalah warisan. Usai semua urusan dokumen selesai, ia memberikan sebuah surat wasiat dari suamiku. Pada surat itu tertulis, “Aku harus pergi terlebih dahulu, kuharap engkau tetap sehat. Istriku, kuberi engkau kebebasan untuk melakukan apa pun karena kutahu engkau merasa aku merampas hidupmu. Karena itu, lakukan hal yang baik di sisa waktu yang telah banyak kamu buang ini.